Terapi bekam (hijamah) merupakan salah satu terapi komplementer yang telah digunakan selama ribuan tahun dan hingga kini masih diterapkan di berbagai negara sebagai pendukung pelayanan kesehatan. Seiring berkembangnya penelitian berbasis bukti, terapi bekam mulai dikaji melalui berbagai pendekatan ilmiah untuk mengevaluasi efektivitas, mekanisme kerja, serta manfaat klinisnya. Artikel ini bertujuan menyajikan tinjauan literatur berdasarkan tiga publikasi ilmiah mengenai terapi bekam. Hasil sintesis menunjukkan bahwa terapi bekam berpotensi membantu mengurangi nyeri, menurunkan tekanan darah, memperbaiki kualitas tidur, serta mendukung pengendalian parameter metabolik seperti glukosa darah, kolesterol, dan asam urat. Mekanisme yang paling sering dilaporkan meliputi peningkatan mikrosirkulasi, modulasi sistem saraf, relaksasi otot, penurunan mediator inflamasi, serta pengurangan stres oksidatif. Meskipun hasil penelitian menunjukkan kecenderungan positif, terapi bekam masih diposisikan sebagai terapi komplementer yang mendukung terapi medis konvensional dan memerlukan penelitian klinis dengan metodologi yang lebih kuat.