Emosi merupakan salah satu karakteristik utama yang membedakan manusia dari mesin. Selama
ribuan tahun, emosi telah menjadi pendorong lahirnya kebudayaan, agama, seni, keluarga,
hingga peradaban. Namun, di sisi lain, emosi juga menjadi penyebab berbagai konflik,
peperangan, diskriminasi, korupsi, dan keputusan yang tidak rasional. Tulisan ini mengkaji
sebuah pertanyaan filosofis: bagaimana jika manusia hidup tanpa emosi dan hanya
mengandalkan logika sebagaimana kecerdasan buatan? Melalui pendekatan analitis, tulisan ini
berpendapat bahwa hilangnya emosi berpotensi mempercepat kemajuan teknologi dan
peradaban, tetapi sekaligus menghilangkan makna yang selama ini menjadi inti kehidupan
manusia.