Wet cupping therapy atau bekam basah merupakan salah satu terapi komplementer yang telah
digunakan selama berabad-abad. Meskipun secara tradisional dikaitkan dengan pembuangan
darah dan pemulihan keseimbangan tubuh, penelitian modern mulai mengevaluasi efeknya
melalui parameter biologis yang lebih objektif, termasuk biomarker inflamasi dan sitokin.
Artikel ini bertujuan meninjau dan menganalisis bukti penelitian terkini mengenai hubungan
wet cupping dengan respons inflamasi dan sistem imun. Literatur terbaru menunjukkan
adanya perubahan beberapa mediator inflamasi setelah wet cupping, termasuk tumor necrosis
factor-alpha (TNF-α), interleukin-1 beta (IL-1β), dan interleukin-6 (IL-6). Sebuah systematic
review dan meta-analysis pada neurodermatitis menemukan penurunan TNF-α, IL-1β, dan
IL-6 pada kelompok wet cupping dibandingkan kontrol, meskipun kualitas bukti keseluruhan
rendah hingga sangat rendah. Penelitian eksperimental yang lebih baru juga menunjukkan
bahwa cupping dengan tekanan negatif tertentu dapat menurunkan IL-6 dan TNF-α serta
berhubungan dengan perubahan Hsp27. Selain itu, randomized controlled trial terbaru pada
pasien post-stroke depression melaporkan bahwa kombinasi akupunktur dan wet cupping
disertai perubahan cortisol, ACTH, IL-1β, IL-6, IL-8, IL-10, IL-17, dan TNF-α dibandingkan
akupunktur saja. Temuan tersebut memberikan dasar untuk hipotesis bahwa wet cupping
mungkin memengaruhi regulasi inflamasi melalui interaksi antara respons jaringan lokal,
sistem imun, sistem neuroendokrin, dan homeostasis. Namun, bukti saat ini belum cukup
untuk menyimpulkan bahwa wet cupping merupakan terapi antiinflamasi yang telah terbukti
secara klinis. Diperlukan RCT berkualitas tinggi dengan kontrol sham, standardisasi teknik,
ukuran sampel memadai, dan pengukuran biomarker longitudinal untuk menentukan apakah
perubahan inflamasi tersebut merupakan efek spesifik wet cupping atau bagian dari respons
fisiologis non-spesifik terhadap stimulasi jaringan.